MENGATASI NAK MALAS BELAJAR
Di era globalisasi seperti sekarang ini banyak terdapat anak- anak yang mengalami anak malas belajar kasus ini biasa terjadi di karenakan anak lebih suksa bermain, melihat TV dari pada membaca buku atau mengulang pelajaran yang telah di dapatkan di sekolah.
Sebelum kita mencari cara bagaimana mengatasi hal tersebut kita harus tahu dulu apa itu kata malas, dan apa yang telah menyebabkan seorang anak itu malas belajar.
MALAS
Malas itu di jabarkan sebagai tidak suka untuk melakukan sesuatu, mlas belajar berarti tidak suka atau tidak memiliki gairah untuk belajar.
Anak lebih suka bermaian karena ereka menganggap kalau belajar merupakan hal yang membosankan sedang bermain merupakan hal yang menyenangkan.
Hal yang menyebabkan anak malas belajar :
- Faktor Intrinsik
- Terlalu banyak nonton tv
Hal ini menyebabkan daya konsentrasi anak lebih tertuju pada siaran – siaran TV daripada membaca buku pelajaran, sehingga si anak menganggap kalau belajar itu membosankan
- Kurangnya waktu untuk bermaian
Misalnya terlalu banyak tuntutan untuk belajar, sehingga si anak merasa jenuh pada belajar
- Kelelahan dala beraktifias (misalnya terlalu banyak bermain atau berkerja membantu orang tuanya sehingga si anak terlalu capek / lelah yang meneyebabkan anak sulit untuk berkonsentrasi dalam belajar)
- Sedang sakit
Orang yang sedang sakit pasti daya konsentrasinya berkurang dia tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.
- Sedang sedih
Si anak akan lebih cenderung menghayati kesedihan daripada pelajaran.
- IQ anak
Anak yang Iqnya rendah biasanya akan lebih cepat jenuh dalam belajar daripada orang yang Iqnya tinggi.
- Faktor Ekstrinsik
- Sikap orang tua yang memperlakukan anaknya tidak sewajarnya dalam belajar. Mungkin tidak perhatian atau berlebiahan memperhatikan anaknya belajar. Banyak orang tua menuntut anaknya demi nilai yang baik bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak sealaku pelajar, seperti memaksa anak untuk Les.
- Sedang punya masalah di rumah, misalnya orang tuanya sering ribut, adiknya suka mengganggu ketika dia sedang belajar.
- Bermasalah di sekolah, mungkin si anak pobia dengan sekolah sehingga tidak suka dengan semua yang berhubungan dengan sekolah, bisa juga si anak sering di jahili oleh teman temanya di sekolah.
- Tidak ada sarana untuk belajar, mungkin ruangan belajar tidak di sediakan secara kusus, atau ruang belajar di sediakan dekat keramaian
- Suasana rumah. Misalnya rumah terlalu ramai, lebih banyak tersedia alat – alat bermain daripada sarana belajar seperti Play Station, game watc, dan lainya, sehingg konsentrasi si anak terganggu.
Mengatasi malas belajar anak
Sebelumnya kita harus mengetahi sebab anak malas belajar sebagai langkah pertama, langkah selanjutnya sebagai berikut :
- Menanamkan pengertian yang benar tentang seluk beluk belajar pada anak sejak dini. Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak., menanarnkan kesadaran serta tanggungjawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermarfaat jangka panjang.
- Berikan contoh “belajar” pada anak
Anak cenderung meniru perilaku orangtua. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orang tua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasaia seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi tidak melihat kalau orangtuanya juga belajar).
- Betikan insntif jika anak belajar. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga, berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh, bial perlu kasih hadiah pada sang anak sehingga ia lebih bersemangat dalam belajar.
- Sering mengajukan pertunyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintaranya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan “Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama”. Dengin cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleb orangtua, karena orangtua .mau minta bantuanya, anak akan selalu berusaha untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan itu di kemudian hari.
- Mengajarkan kepada anak pelajarat – pelajaran dengan metode tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak. Misalnya active learning atau learning by doing, atau learning through playing , sehingga anak merasakan batiwa belajar.adalah sesuatu yang menyenangkan. Lebih menyenangkan daripada bermain, karena belajar memiliki manfaat yang banyak
- Komunikasi
Hendaklah ortu membuka diri, berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya. Cariah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ía malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
- Menciptakan disiplin
Jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti, sehingga dalam diri anak tercipta sesuatu yang harus dilakukanya setiap hari
- Menegakkan kedisiplinan
Setelah point 7, Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak.
- Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
- Kenali pola kemampuan dan perkembangan anak kemudian susunlah sesuaii jadwal belajar yang sesuai dalam hal ini IQ, EQ, kemampuan konsentrasi ,daya serap dll.
- Menciptakan susana belajar yang baik dan nyaman
Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak. Dalam hal ini jika anak sakit / sedih.
Beberapa hal yang tidak kalah peiltingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas belajar adalah :
- Orangtua harus menyadari sisi positif sang anak.
Galilah sisi positif anak agar anak menyadari dirinya sendiri uniuk mengatasi masalahnya, Pernah nggak sih kamu menghadapi PR yang sangat sulit, tapi akhirnya hisa mengatasinya? Ajak anak untuk mengingat ingat, dan kemudian bercerita: Begitu anak mengingat mornen itu, gali lebib jauh. PR apa itu, apa saja kesulitannya, bagaimana dia mengatasinya, dan seterusnya.
Anak akhirnya tersadar bahwa dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya itu, karena dia memiliki sisi positif tertentu. Sisi itu bergantung dari sang anak. Bisa saja karena kesabaran, keuletan, usaha dia untuk bertanya kepada teman, dan sebagainya.
Perkuat keyakinan anak, atau sadarkan anak. Misalnya dengan mengatakan: Nah, kamu pemah mengalarni hal yang seperti ini, dan berarti kamu bisa mengatasinya.
- Gunakan imajinasi anak
Orangtua membantu anak membayangkan, apa yang dia inginkan untuk masa depannya. Baik dalam waktu panjang atau pendek.
Panerng anak untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika dia herhasil mengerjakan PR-nya dengan baik, kira-kira apa ya komentar dari guru? Minta dia menggambarkan imajinasinya dengan jelas, apa jadinya jika PR-nya bagus. Mulai dan bagaimana senyum sang guru, komentarnya, dan sebagainya.
- Mengarahkan anak untu berteman dan “hidup” dalam lingkungan yang baik dan mendukung.
- Tidak terfokus bahwa belajar hanya berkutat pada buku non fiksi. Gunakan segala hal yang baik yang mampu membuat anak “belajar” tentang segala sesuatu, termasuk permainannya karena dunia bermain adalah dunia anak-anak. Pilih dan arahkan permainannya sehingga anak bisa berkembang.
- Memberikan bekal nilai-nilai religius pada anak
Inilah faktor yang sangat penting ,disamping doa orang tua akan anak-anaknya. Apalagi di janlan yang berkembang dengan pesatnya. Tak mungkin orang tua memberikan pengawasan secara kasat mata terus menerus. Juga kemajuan teknologi. Satu hal yang menjadi jawabnya adalah : beragama dengan baik dan benar.



