AIDS

15 01 2010

Generasi muda kurang diberikan pengetahuan mengenai “human immunodeficiency virus-acquired immune deficiency syndrome” (HIV-AIDS), sehingga mereka kurang memahami penyakit berbahaya tersebut. “Generasi muda perlu diberi bekal sebanyak mungkin tentang HIV-AIDS,” kata pendiri Jaringan Muda Peduli HIV-AIDS (Jan Mulia) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Aliyah SKed di Yogyakarta, Sabtu.

Ia mengatakan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memberikan edukasi dan penyampaian informasi tentang HIV-AIDS kepada generasi muda adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. “Ekstrakurikuler mengenai kesehatan reproduksi, pengetahuan HIV-AIDS, bahaya narkoba di sekolah-sekolah perlu dilakukan, sehingga generasi muda memiliki kesadaran dan pemahaman tentang HIV – AIDS,” katanya.

Menurut dia, pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk menanggulangi kasus HIV-AIDS. Misalnya dengan adanya anjuran pemakaian kondom dan pembagian jarum suntik secara gratis. Namun, program yang selama ini dilakukan pemerintah hanya sebatas mengikuti program dan negara lam seperti Amerika Serikat. “Padahal di negara yang menjadi kiblat pemerintah dalam penanggulangan HIV-AIDS, program tersebut sudah tidak digunakan lagi karena dinilai gagal,” katanya.

Ia mengatakan, faktor lain yang menyebabkan jumlah penderita HIV-AIDS bertambah adalah publikasi mengenaipenyakit yang tidak bisa diobati itu kurang. Hal itu menyebabkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai HIV-AIDS rendah. “Masyarakat saat ini cenderung hanya sekedar tahu apa itu AIDS, namun kurang sadar tentang HIV-AIDS, terutama penyebaran dan pencegahannya,” katanya. Menurut dia, HIV-AIDS tidak bisa diobati. Penyakit itu hanya bisa dicegah agar tidak muncul pendenta yang lebih banyak lagi. “Untuk itu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan agar penyebaran IIIV-AIDS dapat dicegah,” katanya. Upaya itu antara lam masyarakat harus memahami apa itu HIV-AIDS. Dengan membuka wacana, telinga, dan mata masyarakat bahwa berbicara mengenai HI V-AiDS, masalah seksual, dan kondom bukanlah hal tabu.

“Selam masyarakat, pemerintah juga harus lebih serius dalam menangani masalah HIV-AIDS. Tanpa partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam menangani masalah itu, upaya pencegahan HIV-AIDS sulit dilakukan,” katany&

Ia mengatakan, Jan Mulia merupakan komunitas mahasiswa UMY yang memiliki kepedulian terhadap penyebaran HIV -AIDS di Indonesia khususnya di Yogyakarta.

Fokus kegiatan Jan Mulia yakni pencegahan penyebaran virus HIV-AIDS melalui metode edukasi dengan penyuluhan dan pendampmgan kepada remaja dan kaum muda. “Pendampingan itu berupa pemberian materi dan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS ke sekolah-sekolah,” katanya.

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.